Rizki Allah Yang Tak Terduga.

 

 

fam1Kesempatan mengunjungi  Baitullah berkali-kali

Siapa mengira kami dapat  melaksanakan umrah dan ibadah haji dalam usia muda plus bersama anak pula yang baru memasuki usia 4 tahun, padahal sebelumnya jangankan untuk ongkos umrah beberapa kali dalam satu tahun dan menunaikan ibadah  haji, untuk makan sebulan saja penghasilan kami hampir tak cukup.

Aku selalu berkomentar seperti ini ” Abang mimpi kali ye … tiap hari baca buku Manasik Haji  ” manakala suamiku tekun mempelajari tata cara ber-umrah dan melaksanakan urutan ibadah Haji dari buku pemberian mertuaku.

Hampir setiap hari di waktu luang, sehabis shalat suamiku membaca buku itu, tiap kali itu juga aku meledeknya dengan kata-kata yang sama. Dengan santai dia menjawab ” eh …….. siapa sangka  Allah memberikan kita rizki yang tak diduga-duga !”.

Bagaimana aku tidak meledeknya dengan kata-kata itu, tahun 1998 negara kita sedang krisis ekonomi, suamiku hanya PNS guru golongan 3A, dan aku hanya guru honorer di sebuah SMA swasta, untuk makan sehari-hari saja tidak cukup jika tidak ditamnbah kegiatan les privat sana-sini, dengan seorang anak berumur 2 tahun yang sedang membutuhkan biaya besar untuk kesehatan dan pertumbuhannya. Untuk menahan lapar agar tidak jajan di waktu kerja suamiku melakukan puasa Nabi Daud, supaya uang untuk ongkos kerja cukup untuk sebulan. Jadi intinya bagaimana kami bisa menabung, menyisakan uang untuk hal lain-lain dengan kondisi seperti itu.

 

Mungkin inilah jawaban dari Do’a dan hadiah dari Allah.

 

Waktu itu kami tinggal di sebuah perumahan di kawasan Tangerang, hampir semua penghuni perumahan adalah keluarga kecil, yang rata-rata baru mempunyai satu atau dua orang anak balita, dan kebanyakan bekerja di Jakarta.

Ada sebuah mushalla di tengah perumahan,  tidak terlalu besar, tapi cukup untuk tempat beribadah penghuni di Blok kami tinggal. Kondisinya sangat memprihatinkan.

Tidak ada yang menggunakan mushalla itu, sampai-sampai hanya kambing-kambing milik tetangga kampung yang sering keluar-masuk ke mushalla itu karena tidak ada yang peduli dengan keberadaannya.

Sebagai hamba Allah kami terpanggil untuk membuat mushalla itu digunakan umat muslim dan muslimah di sekitar kami, dan tidak memberikan kesempatan lagi pada kambing-kambing yang senantiasa senang bermain-main dan membuang kotorannya di situ.

Setiap ada kesempatan suamiku membersihkan mushalla itu, bahkan di hari libur ketika kuterbangun sebelum azan subuh, suamiku sudah tidak ada disampingku bahkan sampai siang hari. Ketika kutengok di kamar mandi sudah tidak ada ember dan kain untuk mengepel lantai, ternyata sudah dibawanya kesana.Demikianlah yang dilakukan suamiku.mulai dari membersihkan mushalla itu sendirian, azan, iqomah dan shalatpun sendirian di rumah Allah itu selama beberapa waktu.

Alhamdulillah …… warga mulai tertarik untuk menggunakan mushalla itu, kian hari bertambah warga yang shalat di situ, tiap hari libur ada saja warga yang berinisiatif mengadakan kerja bhakti untuk membersihkannya, bahkan untuk memperbaiki dan menambah bagus mushalkla itu, kami mengumpulkan bahan-bahan material semampu kami untuk keperluan memperbaikinya.

Kami sangat yakin dengan janji Allah, kepada hamba-hambanya yang meramaikan RumahNya dan  memeliharanya. Sewaktu-waktu akan diberikan ganjaran yang setimpal.

Tiap hari kami berdo’a, semoga dapat terlepas dari masalah terutama ekonomi yang sedang sulit, bertahajud di tengah malam memohon kemurahanNya agar Dia segera mengulurkan tangan untuk kami yang dhaif ini.

 

Beberapa bulan berselang ………. sepulang dari mengajar suamiku berkata dengan gembiranya ” Dik …….. Abang jadi pergi haji, ini tiketnya ” hampir tak percaya. Benar-benar seperti mimpi, ketika kulihat berkas-berkas keperluan untuk perjalanan dinas siamiku ke Riyadh Saudi Arabia telah siap. Wah …. Abang benar-benar mau dinas ke Riyadh dan so pasti kalo udah tinggal di sana bisa dengan mudah menunaikan ibadah haji fikirku.

Bersambung …..

 

 

 

  1. Assallamu alaikum. Hallo bu pha kbr? saya sangat suka membaca tulisan ibu. Karena saya bisa mengambil hikmahnya dan sauri tauladan dari pengalaman ibu. Semoga ibu bisa terus menulis artikel2 yg bermanfaat buat umat.
    wassallam…

  2. Alhamdulillah Sayapun pernah mengalami hal serupa……bahwa ternyata kekuatan doa yang telah kita panjatkan dapat mengalahkan segala kekuatan yang ada di bumi dan alam semesta ini. Namun, bagaimana agar supaya doa kita dapat didengar oleh Allah SWT?. Pertama, Kita harus punya keyakinan bahwa doa kita pasti didengar Allah SWT. Kedua, pada saat sebelum dan sesudah doa perbanyaklah dengar istigfar kepada Allah SWT. Ketiga, Setelah doa diucapkan perbanyak melakukan kegiatan yang banyak membantu orang lain tanpa kita berfikir mendapat balasan dari yang bersangkutan atau tidak dan mulailah selalu dengan bismillah. Jika sudah demikian kita jalankan ternyata doa kita belum juga terkabul, maka perlu introspeksi diri kita, fikirkanlah mungkin kita pernah berbuat salah kepada orang lain, seperti dari tutur kata kita yang pernah menyingging perasaan orang lain, mungkin dari prilaku dan perbuatan kita, atau mungkin dari sedekah kita yang masih ragu. Satu hal lagi, selamah-lemahnya iman kita jangan sekali-kali kita berfikir bahwa kita sudah tidak punya apa-apa lagi, sesungguhnya kita masih punya “Doa”. Selamat mencoba.

  3. terima kasih atas komentar dan sharingnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: