Curhat guru matematika


                              

 mm-tan-prancis2              CURHAT GURU MATEMATIKA
Suasana murid yang tidak siap . . . hal yang sering kutemukan ketika aku memasuki kelas. Padahal rasanya tak bosan-bosannya aku memotivasi para siswa untuk mempersiapkan diri dari rumah, paling tidak semalam mereka belajar untuk mengulang kembali materi yang merupakan syarat kemampuan dasar untuk mempelajari materi berikutnya. Berbagai metode sudah kucoba, mulai dari ceramah, diskusi, praktek nyata hasilnya . . . seperti biasa, paling banyak 10 siswa yang bisa tuntas. Aku selalu memperbanyak istighfar dan berdoa’ mudah-mudahan selalu diberi kesabaran atas tantangan ini dan tidak putus asa dengan melarikan diri meninggalkan profesiku ini. Sejak tahun 1990 aku mengajar matematika, ketika itu aku baru saja lulus dari SLTA, karena predikatku menyandang juara umum kepala sekolah meminta aku untuk mengajar di kelas jauh sekolahku, karena itu tidak sedikit usia mereka yang lebih tua dari usiaku.Saat itu aku sangat enjoy dan semangat mentransfer ilmuku kepada mereka, dan rata-rata mereka juga siap, senang dan sangat bersemangat menyerap materi-materi yang kusajikan. Sepuluh, duapuluh bahkan lebih soal-soal test yang keberikan sebagai bahan evaluasi dapat mereka selesaikan secara cepat, bahkan kadang-kadang malah aku yang kehabisan materi atau soal-soal yang sepertinya mereka ketagihan dengan tantangan yang diberikan. Ketika ulangan hasilnyapun sangat memuaskan tak sedikit yang mendapat nilai 9 atau 10, hanya beberapa anak saja yang mendapat nilai kurang, itupun karena memang kemampuan mereka yang di bawah rata-rata.
Lain dulu lain sekarang . . . aku sampai tak habis fikir, mengapa kini begitu sulitnya mentransfer ilmu kepada siswa era 2000, jangankan sampai kehabisan bahan ajar atau soal test, sedikit materi mudah saja hampir tak pernah bisa selesai disajikan, karena habis waktu tuk remedial.Apakah yang menyebabkan siswa era 2000 seperti itu ?
Menurutku, otak mereka sudah terlalu jenuh dengan hal-hal yang tidak perlu. Kebanyakan pelajar sekarang mau enaknya saja, seakan otak mereka tidak mau digunakan untuk bekerja sedikit keras. “otak kami panas, Bu !” kata-kata itu yang terlontar ketika kita meminta mereka untuk berusaha memahami atau berfikir lebih kreatif lagi dalam menyelesaikan soal /masalah. Bahkan ada saja siswa yang ketika diminta menyelesaikan soal dengan entengnya berkata “ engga bisa, Bu ! “ atau “ engga tau, Bu !” seakan memang tidak ada motivasi sama sekali untuk meniadakan ketidaktahuan dan ketidakbisaan itu.
Kurangnya pemahaman dan tingkat penguasaan materi di SD dan SMP sangat berpengaruh untuk kelanjutan belajar di tingkat lebih tinggi. Untuk itu semakin terpuruklah mereka. Sementara waktu untuk mereview materi dasar sangatlah terbatas, dikarenakan kompetensi yang harus diberikan kepada siswa sangatlah padat. Dan sekolahpun hanya member jam pelajaran sesuai yang sudah ditentukan.Mungkin tak masalah bagi siswa yang cukup mampu ekonominya, mereka bisa ambil jam belajar tambahan dengan les privat di rumah atau pada bimbingan belajar. Lalu bagaimana dengan siswa yang ekonominya pas-pasan, dan malas pula belajar ?
Yang aku perhatikan, pelajar sekarang sulit untuk berkonsentrasi, fikiran mereka tersebar keberbagai macam hal. Pengaruh media elektronik dan kecanggihan teknologi membuat mereka terlena dan melupakan kewajiban utama mereka sebagai pelajar. Justru sebaliknya, nampaknya mereka merasa terpaksa duduk di bangku sekolah.Inilah fenomena yang terjadi, aku tulis berdasarkan pengamatan dan beberapa keluhan rekan-rekan g guru yang mengalami hal yang sama. Bukan berarti semua siswa dan semua sekolah bersikap demikian.Sumbang saran dari rekan-rekan sangat diharapkan.

About siti bahiyah

Siti Bahiyah, S.Pd Latar belakang Pendidikan Matematika IKIP Muhammadiyah Jakarta, sangat tertarik dengan dunia Parenting dan perkembangan anak usia dini hingga remaja, bersama suami dan dua orang putra menggali pengalaman dan menyelami samudra luas dunia anak dan remaja menuju The Best Parent and The Best Children , untuk itu saya memutuskan untuk kembali belajar dan selalu belajar dengan menempuh studi dengan jurusan yang berbeda yaitu Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana. Rela meninggalkan profesi lama sebagai guru bidang studi Matematika dan Insya Allah mengikuti kata hati bercita-cita menjadi seorang Konsultan Pendidikan dan Penulis Buku Parenting. Mohon doa dan supportnya. Salam semangat untuk para orang tua, anak-anak dan remaja.

Posted on Februari 15, 2009, in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Amien ka, mudah”an kita selalu bisa menjaga silaturrahim kita. saya belum pernah menapakan kaki saya di saudi ka”ku…-_-
    Alahamdulillah kesibukan saya kuliah ka di UIN jakarta ka, saya hanya gemar dengan ilmu IT ka(hanya sekadar meluapkan ekspresi). kita saling shar3 aja ya ka baik dalam bidang ilmu komputer dan yang lainnya…
    ‘Afwan bikum ka”ku siti bahiyah….

  2. assalamu’alaikum………. De tolong jelasin bagaimana cara seting blog agar siapa saja bisa menulis komentar di blog kita, walaupun mereka tidak punya alamat e-mail maupun blog. makasih yah atas bantuannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: